Original Story By Akbar Sanjaya
Bella, kekasihku berdiri mematung didepanku, dengan senyum manisnya yang selalu menghiasi wajahnya, benar-benar pemandangan yang sungguh indah dan menyedihkan bagiku,inilah waktunya ia pergi dariku, pergi dari hidupku dengan membawa perasaanku.
Tidak ada kata-kata haru yang terucap diantara kami, hanya ada tatapan sebelah pihak yang terjadi diantara kami, tidak ada niatku untuk mecegahnya pergi, bagiku perpisahan kami adalah suatu estetika cinta yang terjalin dihubungan kami.
Bella meninggalkanku dengan setiap inci dari tubuhnya yang menghilang dari pandanganku dalam waktu yang cukup singkat, iya, dimulai dari ujung jarinya yang semakin lama semakin mengecil, berlanjut pada pergelangan tangannya yang mulai menghilang menjadi suatu tetesan lelehan lilin yang jatuh kedalam wadah tanah liat besar yang bagiku terlihat indah dimataku.
Memang, bagiku setiap lelehan dari Bella , terlihat seperti sebuah keindahan dari karya lilin yang kubuat, namun setiap aku melihat bagian wajahnya yang mencair , hatiku memberontak, memberontak untuk melepas emosiku yang kutahan, emosi kesedihan dari kepergian Bella, namun setetes air mata yang meleleh dipipiku ini, selalu menjadi puncak dari kesedihanku. sebelum meninggalkanku Bella memintaku untuk tegar, dan hanya boleh menitikan satu tetes air mata ketika aku merasa sedih jika mengenangnya, tiga tahun yang lalu, Bella meninggalkanku karena ia mengidap kanker hati yang membuatnya terpaksa meninggalkanku. hingga saat ini aku selalu berharap dengan apa yang aku lakukan ini , Bella tidak akan merasa kesepian dialam sana.
Aku selalu berharap, dengan mencairnya Bella dalam tubuh lilin yang kubuat ini, cinta yang kutanamkan pada tubuh yang kubuat ini, akan sampai kedirinya dialam sana, aku selalu berharap matahari akan menguapkan cinta yang kutanamkan ditubuh ini lalu angin, angin akan membawanya langsung ke Bella, dengan begitu aku akan selalu bisa memberikan cintaku untuknya.
Atap rumahku ini adalah saksi bisu betapa besar cinta yang kuberikan pada Bella, tempat ini menyaksikan betapa setianya aku memberikan cintaku terhadap Bella, tempat ini adalah tempat yang benar-benar menjadi tempat favorit ku untuk menyaksikan setiap lelehan Bella yang mencair kedalam wadah tanah liat besar tersebut, tempat ini juga benar-benar membuatku nyaman dan terhindar dari setiap gangguan yang akan mengusikku dalam menikmati hal ini..
Aku seorang dosen seni di sebuah universitas dikota ini, aku dipanggil sijenius muda yang menjadi dosen diumurku yang ke-21, tapi diumurku itulah aku juga kehilangan Bella, sejak SMA aku selalu berusaha meningkatkan prestasiku dibedang seni agar aku bisa menjadi seseorang yang sukses, menjadi seniman sukses dan menjadi seorang pengajar seni yang membuatku bisa membagikan ilmu dan bakatku ini keorang-orang, orang yang membuatku ingin meraih semua itu tidak lain dan tidak bukan adalah Bella.
Bella yang membuatku berusaha dibidang seni, dan juga kecintaanku terhadap seni terjadi karena “seni” yang menyatukanku dengan bela, seni yang membuat hubungan ku dan Bella bisa terjadi, Bella dan aku bersekolah di SMA yang sama, di SMA inilah aku dan dia berada kelas yang sama ,kami sering bersaing dalam bidang seni, itulah cikal bakal cinta kami.
Walaupun banyak gadis cantik yang ada didunia ini, Bella tidak akan pernah tergantikan bagiku, aku tidak akan pernah menaruh hati pada siapapun, aku tidak akan memberikan cintaku pada orang lain,
Namun akhir-akhir ini seorang mahasiswi yang kubimbing, selalu berusaha mendekatiku, banyak dari teman-temannya menceritakan padaku jika ia menyukai, lantas apa tanggapanku? Tentu saja hanya sebuah senyuman dan tawa ringan yang kutunjukan pada mereka, lalu apa aku menerima gadis itu untuk mendekatiku? Ya, tentu saja.
Arine ,gadis itu bernama Arine, sejak pertama kali aku melihat bentuk tubuhnya dan tingginya, aku selalu memikirkan dirinya didalam otakku, bagiku ia memiliki sesuatu yang benar-benar sempurna, benar-benar akan menjadi indah, itulah yang selalu membuat mataku seperti lapar dan haus untuk selalu melihatnya, lagi, lagi dan lagi.
Tiga minggu berlalu sejak Arine berusaha mendekatiku, hubungan kami mulai benar-benar mendekat dan menjadi lebih akrab padahal hanya dalam beberapa waktu yang singkat, mungkin jika orang lain yang berusaha mendekatiku , aku akan menolaknya dan berusaha menjauh, tapi tidak untuk Arine, kesempurnaan dan bayangan keindahan yang ada pada dirinya membuatku tidak dapat menolaknya, dirinya benar-benar membuatku terjebak dan tertarik pada dirinya, benar-benar tertarik.
Arine kini membuka setiap kancing dari kemejanya, sedikit demi sedikit lekukan indah tubuhnya mengintip dari celah belahan kemejanya, lekukan yang akan membuat semua pria bangkit birahinya,hal ini juga yang membuatku ,pada akhirnya tidak kuasa menahan, ketertarikanku yang sudah mencapai batas yang maksimal, aku kini sudah tidak sabar ingin melihat keindahannya, kesempurnaannya, dan menciptakannya.
Siang tadi, Arine mendatangi rumahku , ia datang membawakanku sebungkus makanan dan minuman yang kebetulan adalah kesukaanku, berawal dari makan bersama, kami terlarut dalam perbincangan panjang yang penuh canda tawa, dan pada akhirnya kami berakhir pada adegan erotis yang terjadi dikamarku malam ini dan bagiku ini adalah saatnya mengeluarkan keindahannya.
Arine meliuk dengan tubuh telanjangnya yang kuikat dalam posisi berdiri, dengan kedua tangannya menggantung diatas dan kakinya yang berusaha menapakan kakinya yang juga telah ku ikat, hanya suara gumamam tangisan yang dapat kudengar dari mulutnya yang kusumpal dengan kain, aku mungkin sedikit merasa kasihan dengan dirinya yang mungkin merasa kedinginan didalam ruangan bawah tanahku yang berdindingkan batu-batu besar dan dilengkapi pendingin, ruangan ini adalah ruangan yang didesain oleh Bella untuku, ia membuat ruang bawah tanah ini menjadi tempatku untuk mengerjakan seni patung lilinku, bahan lilin yang kupakai khusus lilin ini mudah dibentuk namun mudah cair bila terkena suhu diatas dua puluh empat derajat, karena itulah Bella menyarankanku untuk memakai tempat ini sebagai tempatku berkarya.
Kembali pada Arine yang kin kugantung itu, aku kini sudah mengambil pisau daging besar yang sudah kuasah sangat tajam , aku mulai menempatkan bilah tajamnya pada leher Arine, tangisannya semakin menjadi-jadi aku dapat melihat raut keputusasaan dalam wajahnya tersebut, padahal saat ini aku ingin mengeluarkan kesempurnaanya itu.
Aku tidak terlalu tega untuk membuat Arine mengalami ketakutan seperti ini, jadi tanpa basa-basi lagi, aku menggesekan pisau tersebut tepat dilehernya, dan mengucurlah darah segar yang menyiprat keseluruh tubuhku, memang terlihat kejam karena setelah itu aku mulai memotong , tidak bukan memotong , lebih tepatnya memisahkan daginngnya dari tulangnya, aku dengan teliti memisahkan daging-daging tersebut dan berusaha untuk tidak membuat ada sedikitpun daging atau otot yang menyebabkan gundukan kecil yang merusak bentuk tubuh patung lilin tersebut.
Dengan telaten, aku menyiramkan segayung demi segayung, lilin cair yang selalu jadi bahan utama setiap karyaku, terus menyiraminya, menyirami rangka tersebut sehingga lilin itu membalut seperti daging pada rangka yang bisa tetap tersambung karena sendi yang kubiarkan, dan ada beberapa bagian yang kusatukan dengan kawat-kawat itu sehingga dapat berdiri dan membentuk pose yang kuingginkan.
Aku mulai mengukir lilin yang membeku di rangka tadi dan membentuk hidung,mata,mulut dan yang lainnya, tanpa mengenal lelah, tanpa mengenal bosan, karya yang ku ciptakan untuk menyampaikan cintaku pada Bella, kini sudah selesai.
Siang ini, aku membawa karyaku ini keatap dan mengaturnya seperti biasa, tidak lupa aku menyediakan wadah tanah liat untuk menampung lelehan lilin yang mencair, dan dengan otomatis tulang-tulang itu juga akan terjatuh dan membeku didalam lilin cair yang beku nanti, dan pada akhirnya aku hanya perlu menanamnya , benar-benar suatu hal yang menarik bagiku menatap tulang-tulang itu tercemplung kedalam wadah lilin cair itu, seakan- akan setiap aku melihat hal itu, aku merasa setiap cintaku yang kutanam pada patung lilin Bella ,terkurah habis dan telah tersampaikan padanya.
Aku duduk dan menatap hasil karyaku ini, benar-benar membuarku terharu, aku tidak salah memilih gadis itu sebagai rangka patung Bella, baru kali ini aku membuat patung lilin Bella benar-benar mirip, struktur tulangnya , benar-benar membuat pondasi yang pas untuk patung lilin Bella,inilah yang kumaksud dengan kesempurnaan, ya, rangka gadis ini benar-benar sempurna dalam meniru bentuk tubuh Bella, aku terkagum-kagum sendiri melihatnya.
Hingga pada tetesan pertama yang jatuh dari ujung jari patung Bella, aku menyadari, bahwa aku tidak akan bisa membuat hal sempurna ini dua kali, aku harus melakukan sesuatu, sebagai pelengkap dari upacara cintaku untuk Bella, ya aku tidak perlu mengandalkan matahari untuk menguapkan seluruh cinta yangkutanamkan pada patung itu, aku akan menguapkannya sendiri untuk Bella.
Aku berlari dengan cepat kegarasi, dan buru-buru kembali keatap dengan sebotol bensin dan pematik, aku mulai memandikan diriku dengan bensin tersebut, aku tidak peduli dengan baunya yang menusuk hidung,aku sekarang melangkah dan memeluk tubuh patung Bella yang palin sempurna kubuat ini, dan menyalakan pematik ditanganku.
Api kini sudah menjalar diseluruh tubuhku, aku kini bagaikan sebuah obor, aku memeluk patung lilin Bella dengan erat,dan merasakan bahwa kini ia mencair ditanganku, tak ada lagi yang dapat kuungkapkan, hanya senyum samar yang tercipta di wajahku yang sudah terbakar,satu-satunya yang terpikirkan olehku adalah, inilah karya dengan persembahan cinta terbaikku untuk Bella.
Just Enjoy The Story
Tidak ada komentar:
Posting Komentar