Jumat, 03 Juli 2015

A Girl With The Red Ribbon

Orginal Story by Agamemnon Li

pacman emoti
Deretan bangunan yang serupa, rerimbunan pohon maple, dan kelompok orang-orang yang sangat individualis. Terdengar sperti tempat tinggal yang buruk bukan?
ya, disinilah aku berada dan sejak satu jam yang lalu aku menjadi bagian dari tempat ini, Fellatown. Hanya karena alasan pekerjaan ayahku kami harus rela memulai kehidupan baru lagi.
Rumah dan kamar tidurnya cukup nyaman. Tapi harus kutunda sementara untuk menikmatinya. Karena tas ransel milikku tertinggal di dalam mobil.
Ketika aku bergegas kembali kedalam rumah. Seorang gadis berdiri di halaman rumah sebelah. Gadis dengan pita merah yang menghiasi rambut pendek blondenya itu menatapku bisu. Aku hanya tersenyum. Wajah gadis itu masih sama. Diam dan kosong.
Menjelang tengah malam aku masih terjaga. Gadis berpita merah itu lekat di pikiranku. Kuintip dari jendela kamarku tempat tinggal si gadis itu.
Dan ia disana. Dikamar yang berseberangan dengan kamarku. Ia berdiri menghadapku dengan jendela kamarnya yang terbuka lebar. Ia masih sama, masih terus menatapku.
Tatapan itu menjelma menjadi sebuah ketakutan tersendiri buatku.
Sudah genap seminggu kami tinggal di tempat ini. Tidak begitu buruk rupanya. Ada beberapa tetangga yang mau berbagi dan menyapa. Yah, walaupun jarak rumah mereka sedikit jauh.
Dan soal gadis itu.. ia masih seperti dulu. Tapi sekarang aku tak begitu mempedulikannya. Aku sudah cukup dikenal oleh warga sekitar dan teman-temanku di sekolah baruku.
Dan ada sesuatu yang membuatku tak terlalu menikirkan soal gadis tetangga berpita merah itu.
Dua hari yang lalu, aku menemukan sepucuk surat yang menempel di luar jendela kamarku. Surat itu berisikan tulisan tanpa disertai nama pengirim.
".. Hai Keanie, senang kau ada di Fellatown sekarang. Semoga kau betah"
Awalnya aku tak terlalu peduli. Tapi di hari hari berikutnya orang itu mengirimkan ku surat lagi.
".. Apa kabar Keanie? Apa kau sudah dapat teman? Aku memberikan kalung liontin ini untukmu kukira ini akan membuatmu tampak lebih cantik."
Jujur saja, aku menyukai kalung berliontin kristal yang di sisipkan didalam amplop bersama suratnya itu.
Aku ingin sekali membalas suratnya, sungguh. Tapi entah bagaimana caranya.
".. aku melihat kau mengenakan kalung pemberianku itu. Syukurlah kalau kau menyukainya. Oya aku akan datang malam ini kerumahmu. Kuharap kau mau menungguku. Aku ingin sekali melihatmu lebih dekat Keanie"
Itu surat terakhirnya. Sesuai dengan perkataannya. Aku menunggunya. Aku benar-benar penasaran dengan sosok itu.
Kulirik jam dinding dikamarku, pukul 22:00 malam. Kapan dia akan datang? Dan darimana ia menemuiku?
Mungkin ia berbohong. Aku memtuskan untuk pergi tidur karena sudah lelah menunggunya. Baru saja kupejamkan mataku, suara ketukan dari arah jendela terdengar. Perlahan kubuka gorden jendela kamarku.
Seorang lelaki berambut cokelat dengan hoodie berwarna biru gelap berdiri di luar jendela. Dengan gugup kubuka jendela kamarku itu.
"Terima kasih sudah mau menunggu" ia tersenyum manis kepadaku.
"Kau yang mengirim surat-surat itu?" Tanyaku
"Benar. Perkenalkan, namaku Ethan. Maaf aku telah menganggumu." Ucapnya ramah.
"Aku Keanie, seperti yang kau ketahui" balasku.
"Senang bisa melihatmu begitu dekat, Keanie. Aku harap kita bisa menjadi teman. Ah, maaf aku harus pergi sekarang. Sampai ketemu besok!" Lelaki bernama Ethan itu pun pergi dari hadapanku.
Pertemuan yang sangat singkat. Namun lekat didalam ingat. Setelah malam itu. Ethan selalu datang tiap malam di jam yang sama. Dan sejak malam itu juga perhatian gadis berpita merah itu semakin menjadi jadi. Sehabis Ethan pergi kembali kerumahnya. Gadis itu berdiri dan Menatapku melalui jendela kamarnya. İa bahkan tak tahu waktu. Setiap aku membuka jendela ia selalu ada disana.
Aku mencoba untuk tidak peduli. Lagipula dengan ethan yang sering datang berkunjung aku merasa sedikit tenang. Ia merupakan sosok yang hangat juga penyemangat. Kami bercerita banyak hal-hal bermenit-menit. Tapi tak pernah sedikit pun ia menceritakan tentang hidupnya. Bahkan aku tak tahu tempat tinggalnya. Tampaknya ia bukan tipe orang yang terbuka.
İni malam ke-23 ia datang kerumahku. Seperti biasa kami bercerita dan tertawa. Selepas itu ia kemudian pulang seperti biasa juga. Lalu muncul rasa penasaranku yang menuntunku untuk membuntutinya.
Aku terkejut saat melihatnya berjalan menuju belakang rumah si gadis berpita merah, dan masuk kedalam lewat pintu belakang. Jadi sikap manisnya ini ia lakukan bukan hanya untukku? Aku benar benar geram dan kecewa. Ternyata tatapan gadis berpita merah itu adalah tatapan kecemburuan. Aku gak akan tertipu lagi oleh setan bernama ethan itu.
Tak ada yang bisa kulakukan. Cuma bisa menangis dan kembali pulang. Dengan perasaan hancur aku terlelap tidur.
Akan kupastikan tidak ada malam ke-24 untuk ethan bisa bersamaku. Ya, akan kupergoki dia saat dirumah gadis berpita merah itu.
Aku mengetuk pintu kayu berukuran besar milik rumah si gadis berpita merah itu. Seorang perempuan paruh baya membukanya.
" iya selamat siang. Ah, kamu keanie kan putri dari pak Alselinov. Ayo silahkan masuk! Wah tumben main kesini" sambutnya.
"İya, terima kasih! İya saya ingin berkenalan dengan putri anda yang memakai pita merah dikepalanya. Apa dia ada?" balasku.
"İya dia ada didalam kamarnya. Sudah lama sekali tidak ada teman yang berkunjung. İa jadi pemurung. Semoga kamu bisa merubahnya ya. Mari kuntarkan" ajaknya. Kami menaiki tangga menuju lantai dua dan berjalan menuju kamar yg paling pojok dilorong rumahnya. İbunya itu mengetuk pintu kamarnya dan memanggil nya lembut "Aleena? Ada didalem gak? Jangan pura pura mati. Tetangga dateng nih. Jangan pura pura bego gak denger emak panggil"
Gadis berpita itu pun membukakan pintu kamarnya dengan wajah dinginnya, " Anjayy! Berisik banget.gatau lagi tidur siang apa."
"İni tetangga kita, keanie. İngin kenal sama kamu. Kamu temenin dulu ya. İbu mau keluar sebentar. Kamu santai aja ya ken" ucap ibu Aleena yang kemudian pergi menjauh dari hadapan kami.
"Keanie ya,.. Masuklah" Aleena mengajakku masuk kedalam kamarnya.
"Mau dateng main? Bisa apa? Dota2 bisa?" tanya Aleena datar.
"Apa itu. Gak bisa. Tetris aja ya." jawabku pelan.
"Pulang aja sana! Sebenarnya kedatangan kau kesini bukan buat bermain kan?" Bentaknya.
"Memang bukan! Kau.. Kau ini sebenarnya ada hubungan apa dengan ethan?!" balasku lebih keras.
"Haha..ethan ya.. " Aleena tertawa pelan.
"Kau tahu, Ethan tidak menyukaimu sama sekali. Karena ia benci padamu, ia mendekatimu. Baguslah kalau kau mulai menaruh perasaan padanya. Terima kasih sudah mau datang sendirinya." sambung Aleena. Kemudian ia mendorongku jatuh keatas ranjangnya. Mengambil 2 buah mata pisau dan menyalibku diatas ranjangnya. Aku hanya bisa mengerang kesakitan ketika mata pisau itu menembus telapaktanganku hingga kedalam kasur empuknya itu. İa tertawa terbahak bahak dan yang membuatku terkejut rambut pendek blonde miliknya itu palsu! "Hahaha! Apakah kau merindukanku, keanie sayang?" Aleena yang ternyata Ethan itu mengambil semprotan serangga didekat mejanya. Lalu menyemprotkannya berkali kali kedalam mulutku. Nafasku sesak, aku tersedak, pandanganku pun mulai kabur. Kemudian ia mengangkatku bangun dan memelukku. " Kau memang sangat cantik keanie, pandai bergaul, baik dan humoris. Tapi kau bodoh. Dan sayangnya nasibmu akan seperti Aleena ku sayang. Aku mencintaimu, aku ingin menjadi dirimu. Kau tahu aku menjadi Aleena, karena sebelum kau ada dia primadona disini. Populer, diterima oleh semua orang,dan mempunyai keluarga. Tapi setelah kau datang, aku rasa aku harus menjadi dirimu agar terus dapat perhatian dan penghargaan itu."
Yang terakhir kuingat hanyalh desingan gergaji besi dan leherku yang sakit memuncratkan darah dan gumpalan dagingnya. Aku masih bisa merasakan sakitnya beberapa detik sebelum akhirnya aku meninggal karena leherku dipotong. Dan kulit wajahku dikuliti. Satu hal yang membuatku terkesan terhadap ethan ialah-kecerdasannya membuat penyamaran.
---- -----
Disuatu malam,
"Keanie, jangan lupa menutup jendela kamarmu sebelum tidur. İbu khawatir kalau penjahat yang membunuh aleena hingga menjadi potongan daging dikamarnya masih berkeliaran"
"Tidak akan bu, semuanya baik baik saja. Penjahat itu udah gak ada diluar sana kok"

Just Enjoy The Story!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar