Jumat, 03 Juli 2015

A Girl With The Red Ribbon

Orginal Story by Agamemnon Li

pacman emoti
Deretan bangunan yang serupa, rerimbunan pohon maple, dan kelompok orang-orang yang sangat individualis. Terdengar sperti tempat tinggal yang buruk bukan?
ya, disinilah aku berada dan sejak satu jam yang lalu aku menjadi bagian dari tempat ini, Fellatown. Hanya karena alasan pekerjaan ayahku kami harus rela memulai kehidupan baru lagi.
Rumah dan kamar tidurnya cukup nyaman. Tapi harus kutunda sementara untuk menikmatinya. Karena tas ransel milikku tertinggal di dalam mobil.
Ketika aku bergegas kembali kedalam rumah. Seorang gadis berdiri di halaman rumah sebelah. Gadis dengan pita merah yang menghiasi rambut pendek blondenya itu menatapku bisu. Aku hanya tersenyum. Wajah gadis itu masih sama. Diam dan kosong.
Menjelang tengah malam aku masih terjaga. Gadis berpita merah itu lekat di pikiranku. Kuintip dari jendela kamarku tempat tinggal si gadis itu.
Dan ia disana. Dikamar yang berseberangan dengan kamarku. Ia berdiri menghadapku dengan jendela kamarnya yang terbuka lebar. Ia masih sama, masih terus menatapku.
Tatapan itu menjelma menjadi sebuah ketakutan tersendiri buatku.
Sudah genap seminggu kami tinggal di tempat ini. Tidak begitu buruk rupanya. Ada beberapa tetangga yang mau berbagi dan menyapa. Yah, walaupun jarak rumah mereka sedikit jauh.
Dan soal gadis itu.. ia masih seperti dulu. Tapi sekarang aku tak begitu mempedulikannya. Aku sudah cukup dikenal oleh warga sekitar dan teman-temanku di sekolah baruku.
Dan ada sesuatu yang membuatku tak terlalu menikirkan soal gadis tetangga berpita merah itu.
Dua hari yang lalu, aku menemukan sepucuk surat yang menempel di luar jendela kamarku. Surat itu berisikan tulisan tanpa disertai nama pengirim.
".. Hai Keanie, senang kau ada di Fellatown sekarang. Semoga kau betah"
Awalnya aku tak terlalu peduli. Tapi di hari hari berikutnya orang itu mengirimkan ku surat lagi.
".. Apa kabar Keanie? Apa kau sudah dapat teman? Aku memberikan kalung liontin ini untukmu kukira ini akan membuatmu tampak lebih cantik."
Jujur saja, aku menyukai kalung berliontin kristal yang di sisipkan didalam amplop bersama suratnya itu.
Aku ingin sekali membalas suratnya, sungguh. Tapi entah bagaimana caranya.
".. aku melihat kau mengenakan kalung pemberianku itu. Syukurlah kalau kau menyukainya. Oya aku akan datang malam ini kerumahmu. Kuharap kau mau menungguku. Aku ingin sekali melihatmu lebih dekat Keanie"
Itu surat terakhirnya. Sesuai dengan perkataannya. Aku menunggunya. Aku benar-benar penasaran dengan sosok itu.
Kulirik jam dinding dikamarku, pukul 22:00 malam. Kapan dia akan datang? Dan darimana ia menemuiku?
Mungkin ia berbohong. Aku memtuskan untuk pergi tidur karena sudah lelah menunggunya. Baru saja kupejamkan mataku, suara ketukan dari arah jendela terdengar. Perlahan kubuka gorden jendela kamarku.
Seorang lelaki berambut cokelat dengan hoodie berwarna biru gelap berdiri di luar jendela. Dengan gugup kubuka jendela kamarku itu.
"Terima kasih sudah mau menunggu" ia tersenyum manis kepadaku.
"Kau yang mengirim surat-surat itu?" Tanyaku
"Benar. Perkenalkan, namaku Ethan. Maaf aku telah menganggumu." Ucapnya ramah.
"Aku Keanie, seperti yang kau ketahui" balasku.
"Senang bisa melihatmu begitu dekat, Keanie. Aku harap kita bisa menjadi teman. Ah, maaf aku harus pergi sekarang. Sampai ketemu besok!" Lelaki bernama Ethan itu pun pergi dari hadapanku.
Pertemuan yang sangat singkat. Namun lekat didalam ingat. Setelah malam itu. Ethan selalu datang tiap malam di jam yang sama. Dan sejak malam itu juga perhatian gadis berpita merah itu semakin menjadi jadi. Sehabis Ethan pergi kembali kerumahnya. Gadis itu berdiri dan Menatapku melalui jendela kamarnya. İa bahkan tak tahu waktu. Setiap aku membuka jendela ia selalu ada disana.
Aku mencoba untuk tidak peduli. Lagipula dengan ethan yang sering datang berkunjung aku merasa sedikit tenang. Ia merupakan sosok yang hangat juga penyemangat. Kami bercerita banyak hal-hal bermenit-menit. Tapi tak pernah sedikit pun ia menceritakan tentang hidupnya. Bahkan aku tak tahu tempat tinggalnya. Tampaknya ia bukan tipe orang yang terbuka.
İni malam ke-23 ia datang kerumahku. Seperti biasa kami bercerita dan tertawa. Selepas itu ia kemudian pulang seperti biasa juga. Lalu muncul rasa penasaranku yang menuntunku untuk membuntutinya.
Aku terkejut saat melihatnya berjalan menuju belakang rumah si gadis berpita merah, dan masuk kedalam lewat pintu belakang. Jadi sikap manisnya ini ia lakukan bukan hanya untukku? Aku benar benar geram dan kecewa. Ternyata tatapan gadis berpita merah itu adalah tatapan kecemburuan. Aku gak akan tertipu lagi oleh setan bernama ethan itu.
Tak ada yang bisa kulakukan. Cuma bisa menangis dan kembali pulang. Dengan perasaan hancur aku terlelap tidur.
Akan kupastikan tidak ada malam ke-24 untuk ethan bisa bersamaku. Ya, akan kupergoki dia saat dirumah gadis berpita merah itu.
Aku mengetuk pintu kayu berukuran besar milik rumah si gadis berpita merah itu. Seorang perempuan paruh baya membukanya.
" iya selamat siang. Ah, kamu keanie kan putri dari pak Alselinov. Ayo silahkan masuk! Wah tumben main kesini" sambutnya.
"İya, terima kasih! İya saya ingin berkenalan dengan putri anda yang memakai pita merah dikepalanya. Apa dia ada?" balasku.
"İya dia ada didalam kamarnya. Sudah lama sekali tidak ada teman yang berkunjung. İa jadi pemurung. Semoga kamu bisa merubahnya ya. Mari kuntarkan" ajaknya. Kami menaiki tangga menuju lantai dua dan berjalan menuju kamar yg paling pojok dilorong rumahnya. İbunya itu mengetuk pintu kamarnya dan memanggil nya lembut "Aleena? Ada didalem gak? Jangan pura pura mati. Tetangga dateng nih. Jangan pura pura bego gak denger emak panggil"
Gadis berpita itu pun membukakan pintu kamarnya dengan wajah dinginnya, " Anjayy! Berisik banget.gatau lagi tidur siang apa."
"İni tetangga kita, keanie. İngin kenal sama kamu. Kamu temenin dulu ya. İbu mau keluar sebentar. Kamu santai aja ya ken" ucap ibu Aleena yang kemudian pergi menjauh dari hadapan kami.
"Keanie ya,.. Masuklah" Aleena mengajakku masuk kedalam kamarnya.
"Mau dateng main? Bisa apa? Dota2 bisa?" tanya Aleena datar.
"Apa itu. Gak bisa. Tetris aja ya." jawabku pelan.
"Pulang aja sana! Sebenarnya kedatangan kau kesini bukan buat bermain kan?" Bentaknya.
"Memang bukan! Kau.. Kau ini sebenarnya ada hubungan apa dengan ethan?!" balasku lebih keras.
"Haha..ethan ya.. " Aleena tertawa pelan.
"Kau tahu, Ethan tidak menyukaimu sama sekali. Karena ia benci padamu, ia mendekatimu. Baguslah kalau kau mulai menaruh perasaan padanya. Terima kasih sudah mau datang sendirinya." sambung Aleena. Kemudian ia mendorongku jatuh keatas ranjangnya. Mengambil 2 buah mata pisau dan menyalibku diatas ranjangnya. Aku hanya bisa mengerang kesakitan ketika mata pisau itu menembus telapaktanganku hingga kedalam kasur empuknya itu. İa tertawa terbahak bahak dan yang membuatku terkejut rambut pendek blonde miliknya itu palsu! "Hahaha! Apakah kau merindukanku, keanie sayang?" Aleena yang ternyata Ethan itu mengambil semprotan serangga didekat mejanya. Lalu menyemprotkannya berkali kali kedalam mulutku. Nafasku sesak, aku tersedak, pandanganku pun mulai kabur. Kemudian ia mengangkatku bangun dan memelukku. " Kau memang sangat cantik keanie, pandai bergaul, baik dan humoris. Tapi kau bodoh. Dan sayangnya nasibmu akan seperti Aleena ku sayang. Aku mencintaimu, aku ingin menjadi dirimu. Kau tahu aku menjadi Aleena, karena sebelum kau ada dia primadona disini. Populer, diterima oleh semua orang,dan mempunyai keluarga. Tapi setelah kau datang, aku rasa aku harus menjadi dirimu agar terus dapat perhatian dan penghargaan itu."
Yang terakhir kuingat hanyalh desingan gergaji besi dan leherku yang sakit memuncratkan darah dan gumpalan dagingnya. Aku masih bisa merasakan sakitnya beberapa detik sebelum akhirnya aku meninggal karena leherku dipotong. Dan kulit wajahku dikuliti. Satu hal yang membuatku terkesan terhadap ethan ialah-kecerdasannya membuat penyamaran.
---- -----
Disuatu malam,
"Keanie, jangan lupa menutup jendela kamarmu sebelum tidur. İbu khawatir kalau penjahat yang membunuh aleena hingga menjadi potongan daging dikamarnya masih berkeliaran"
"Tidak akan bu, semuanya baik baik saja. Penjahat itu udah gak ada diluar sana kok"

Just Enjoy The Story!


Kamis, 02 Juli 2015

(Urban Legend) Kisah Sidi Nouman

Kisah seorang Sidi Nouman adalah sebuah cerita seram tentang seorang pria yang menikahi seorang wanita bernama Amina, di mana dia belum pernah melihat wajahnya. Kisah ini berdasarkan cerita rakyat kuno di negara-negara Arab, dalam kisah-kisah 1001 malam.

-

Ada seorang pemuda bernama Sidi Nouman yang berasal dari keluarga kaya. Dia sudah ingin menikah, namun belum pernah bertemu dengan pengantinnya. Dia bahkan tidak pernah melihat wajah gadis itu. Mengikuti kebiasaan saat itu, pernikahan diatur oleh orangtuanya. Dan bagi wanita yang ingin menikah harus menjaga wajahnya tetap tersembunyi di balik cadar hingga lewat hari pernikahannya. Apa yang diketahui oleh Sidi hanyalah nama gadis itu Amina.

Ketika pernikahan itu telah selesai, Sidi sangat penasaran dengan wajah pengantin baru yang pulang bersamanya. Di kamar tidur mereka, Amina membuka cadarnya. Sidi kemudian terkejut dengan kecantikan yang mempesona dari istrinya. Diselimuti keceriaan, dia menggendong istrinya dan memeluknya erat-erat. Dan bulan madu mereka dimulai.

Setelah hari pernikahan itu, Sidi Nouman dan istrinya tengah duduk di ruang makan. Pelayan kemudian datang dan menghidangkan berbagai makanan lezat di atas mejanya. Entah mengapa, ketika Sidi tengah menyantap makanannya, dia kemudian menyadari bahwa istrinya itu belum memakan apapun.

Ketika melihatnya, Amina kemudian menarik sebuah kotak besi yang kecil dari sakunya dan membukanya. Dia lalu mengambil sebuah jarum panjang dan menggunakan jarum itu untuk mengambil nasinya, bulir demi bulir. Setelah hanya memakan beberapa bulir nasi, Amina menaruh kembali jarum itu di tempatnya dan meminta permisi dari meja makannya.
Di hari-hari berikut setelah itu, kapan pun mereka makan bersama, Sidi menyadari bahwa istrinya jarang makan sama sekali. Kadang-kadang dia hanya menelan beberapa potong roti lalu duduk ke belakang kembali, dan bilang sudah kenyang. Tingkah lakunya yang aneh mulai membuat Sidi khawatir.

Suatu malam, ketika Amina mengira suaminya sudah tertidur pulas, wanita itu pelan-pelan turun dari ranjangnya. Sidi hanya berpura-pura tidur dan ketika mendengar istrinya bangun dari tempat tidurnya, dia menjadi curiga. Tetap menutup matanya rapat-rapat, dia mendengar istrinya berpakaian dengan tergesa-gesa dan menyelinap tanpa suara keluar kamar.

Ketika istrinya sudah pergi, dia segera bangun dan berpakaian untuk mengikutinya. Melihat dari jendela, dia menyaksikan istrinya meninggalkan rumah dan berjalan di jalanan. Dia berlari turun keluar pintu depan dan mengejarnya di bawah cahaya bulan yang menyeramkan, menuju ke sebuah pemakaman.

Saat itu sudah larut malam dan pemakaman itu sangat hampa. Sidi menyusup dalam bayang-bayang dan mengintip dari balik tembok pemakaman. Pria itu kemudian terkejut, ketika melihat Amina menuju ke tengah-tengah makam di mana dia bertemu dengan seorang pria yang sedang menggali sebuah kubur. Sidi terlalu jauh untuk mendengar apa yang mereka bicarakan.

Bersama-sama, Amina dan pria itu menggali sebuah makam yang baru dan membuka petinya. Sidi kemudian terperangah dan takut, ketika melihat mereka menarik keluar tubuh yang membusuk di dalamnya, memotong-motongnya dan memakan bagian mayat itu. Menyantapnya dengan buas dan lahap untuk memuaskan rasa lapar mereka. Masih bertahan di tempatnya bersembunyi, Sidi gemetar menyaksikan pemandangan menjijikkan istrinya yang sedang mengunyah daging busuk dari mayat itu.

Ketika sudah selesai menyantap semuanya, Amina dan pria misterius itu mengumpulkan tulang-tulangnya dan memasukkan mereka kembali ke tempatnya, menutupinya dengan tanah. Tidak percaya dengan apa yang baru saja disaksikan, Sidi terpaksa pergi menjauh dari pemakaman itu. Berlari kembali ke rumah dan naik ke ranjangnya, berpura-pura tidur ketika istrinya kembali. Amina pun melepas gaunnya dan menyelinap dalam selimutnya, tak mengetahui bahwa rahasia buruknya telah terbongkar.

Sidi Nouman tidak bisa tidur di sisa malam itu, dan di pagi harinya, dia pergi dari rumahnya sebelum Amina bangun. Dia menuju ke kota untuk bertanya kepada seorang cenayang dan mencari tahu apa yang harus dilakukannya. Dia memberitahu padanya tentang pernikahannya dengan Amina, kebiasaan makannya yang mencurigakan dan pemandangan mengerikan yang dilihatnya saat di kuburan.

“Istrimu seorang Ghoul,” kata cenayang itu. “Salah satu setan yang berkeliaran di kota ini, membuat sarang mereka di gedung-gedung tua yang terbengkalai dan menyelinap di antara orang-orang untuk memakan daging mereka. Jika mereka tidak menemukan mangsa yang hidup, mereka akan pergi ke makam-makam untuk mencari mayat.”

“Apa yang harus kulakukan?” Sidi memohon dengan berlinang airmata. “Kumohon katakan padaku.”

Cenayang itu kemudian memberinya sebuah botol kecil di tangannya yang berisi cairan berwarna gelap.

“Ambil ini dan pulanglah segera.” katanya. “Ketika tiba saatnya, lempar ramuan ini ke matanya dan kau akan melihat apa yang harus kau lihat …”

Ketika Sidi pulang ke rumah, saat itu tepat waktu makan siang mereka. Istrinya kemudian menyambutnya, dan mengantarnya ke meja makan. Pelayan kemudian menyajikan beberapa makanan di hadapan mereka.

Seperti biasa, Amina mengeluarkan kotak besinya, mengambil jarum dan mulai mengait nasinya satu demi satu, dan menaruhnya di dalam mulutnya.

“Kenapa Amina?” kata Sidi pelan. “Apakah ada yang salah dengan makanannya?”

“Tidak, Aku hanya tidak lapar.” jawabnya.

“Mungkin ada sesuatu yang lain, yang ingin kau makan …” Sidi mengatakan itu dengan senyuman sinis di wajahnya. “Dari semua ini, pasti tidak ada yang lebih manis dari daging busuk sebuah mayat …”

Tak lama setelah mendengar kalimat itu, Amina berubah menjadi kasar. Wajahnya menjadi ungu, matanya melotot seperti ingin meloncat dari tempatnya. Menunjukkan giginya yang bergeretak, Amina menyeberangi meja itu dan dengan kasar mencoba menangkap Sidi. Tapi dia terlalu lambat.

Sidi telah membuka botolnya dan melemparkan cairan di dalamnya ke mata Amina. Segera Amina yang cantik rupawan, wajahnya berubah menjadi hitam. Kulitnya mulai berasap dan daging yang menempel di tubuhnya, berjatuhan dari tulangnya. Sidi ketakutan menyaksikan wajah istrinya yang mulai meleleh. Wanita itu lalu jatuh di atas lututnya dan tubuhnya hangus dan mencair di depan matanya.

Setelah semua itu, yang tersisa hanyalah kubangan lumpur hitam yang tebal di mana Amina terbuat.

Just Enjoy The Story!

Bella

Original Story By Akbar Sanjaya


Bella, kekasihku berdiri mematung didepanku, dengan senyum manisnya yang selalu menghiasi wajahnya, benar-benar pemandangan yang sungguh indah dan menyedihkan bagiku,inilah waktunya ia pergi dariku, pergi dari hidupku dengan membawa perasaanku.
Tidak ada kata-kata haru yang terucap diantara kami, hanya ada tatapan sebelah pihak yang terjadi diantara kami, tidak ada niatku untuk mecegahnya pergi, bagiku perpisahan kami adalah suatu estetika cinta yang terjalin dihubungan kami.
Bella meninggalkanku dengan setiap inci dari tubuhnya yang menghilang dari pandanganku dalam waktu yang cukup singkat, iya, dimulai dari ujung jarinya yang semakin lama semakin mengecil, berlanjut pada pergelangan tangannya yang mulai menghilang menjadi suatu tetesan lelehan lilin yang jatuh kedalam wadah tanah liat besar yang bagiku terlihat indah dimataku.
Memang, bagiku setiap lelehan dari Bella , terlihat seperti sebuah keindahan dari karya lilin yang kubuat, namun setiap aku melihat bagian wajahnya yang mencair , hatiku memberontak, memberontak untuk melepas emosiku yang kutahan, emosi kesedihan dari kepergian Bella, namun setetes air mata yang meleleh dipipiku ini, selalu menjadi puncak dari kesedihanku. sebelum meninggalkanku Bella memintaku untuk tegar, dan hanya boleh menitikan satu tetes air mata ketika aku merasa sedih jika mengenangnya, tiga tahun yang lalu, Bella meninggalkanku karena ia mengidap kanker hati yang membuatnya terpaksa meninggalkanku. hingga saat ini aku selalu berharap dengan apa yang aku lakukan ini , Bella tidak akan merasa kesepian dialam sana.
Aku selalu berharap, dengan mencairnya Bella dalam tubuh lilin yang kubuat ini, cinta yang kutanamkan pada tubuh yang kubuat ini, akan sampai kedirinya dialam sana, aku selalu berharap matahari akan menguapkan cinta yang kutanamkan ditubuh ini lalu angin, angin akan membawanya langsung ke Bella, dengan begitu aku akan selalu bisa memberikan cintaku untuknya.
Atap rumahku ini adalah saksi bisu betapa besar cinta yang kuberikan pada Bella, tempat ini menyaksikan betapa setianya aku memberikan cintaku terhadap Bella, tempat ini adalah tempat yang benar-benar menjadi tempat favorit ku untuk menyaksikan setiap lelehan Bella yang mencair kedalam wadah tanah liat besar tersebut, tempat ini juga benar-benar membuatku nyaman dan terhindar dari setiap gangguan yang akan mengusikku dalam menikmati hal ini..
Aku seorang dosen seni di sebuah universitas dikota ini, aku dipanggil sijenius muda yang menjadi dosen diumurku yang ke-21, tapi diumurku itulah aku juga kehilangan Bella, sejak SMA aku selalu berusaha meningkatkan prestasiku dibedang seni agar aku bisa menjadi seseorang yang sukses, menjadi seniman sukses dan menjadi seorang pengajar seni yang membuatku bisa membagikan ilmu dan bakatku ini keorang-orang, orang yang membuatku ingin meraih semua itu tidak lain dan tidak bukan adalah Bella.
Bella yang membuatku berusaha dibidang seni, dan juga kecintaanku terhadap seni terjadi karena “seni” yang menyatukanku dengan bela, seni yang membuat hubungan ku dan Bella bisa terjadi, Bella dan aku bersekolah di SMA yang sama, di SMA inilah aku dan dia berada kelas yang sama ,kami sering bersaing dalam bidang seni, itulah cikal bakal cinta kami.
Walaupun banyak gadis cantik yang ada didunia ini, Bella tidak akan pernah tergantikan bagiku, aku tidak akan pernah menaruh hati pada siapapun, aku tidak akan memberikan cintaku pada orang lain,
Namun akhir-akhir ini seorang mahasiswi yang kubimbing, selalu berusaha mendekatiku, banyak dari teman-temannya menceritakan padaku jika ia menyukai, lantas apa tanggapanku? Tentu saja hanya sebuah senyuman dan tawa ringan yang kutunjukan pada mereka, lalu apa aku menerima gadis itu untuk mendekatiku? Ya, tentu saja.
Arine ,gadis itu bernama Arine, sejak pertama kali aku melihat bentuk tubuhnya dan tingginya, aku selalu memikirkan dirinya didalam otakku, bagiku ia memiliki sesuatu yang benar-benar sempurna, benar-benar akan menjadi indah, itulah yang selalu membuat mataku seperti lapar dan haus untuk selalu melihatnya, lagi, lagi dan lagi.
Tiga minggu berlalu sejak Arine berusaha mendekatiku, hubungan kami mulai benar-benar mendekat dan menjadi lebih akrab padahal hanya dalam beberapa waktu yang singkat, mungkin jika orang lain yang berusaha mendekatiku , aku akan menolaknya dan berusaha menjauh, tapi tidak untuk Arine, kesempurnaan dan bayangan keindahan yang ada pada dirinya membuatku tidak dapat menolaknya, dirinya benar-benar membuatku terjebak dan tertarik pada dirinya, benar-benar tertarik.
Arine kini membuka setiap kancing dari kemejanya, sedikit demi sedikit lekukan indah tubuhnya mengintip dari celah belahan kemejanya, lekukan yang akan membuat semua pria bangkit birahinya,hal ini juga yang membuatku ,pada akhirnya tidak kuasa menahan, ketertarikanku yang sudah mencapai batas yang maksimal, aku kini sudah tidak sabar ingin melihat keindahannya, kesempurnaannya, dan menciptakannya.
Siang tadi, Arine mendatangi rumahku , ia datang membawakanku sebungkus makanan dan minuman yang kebetulan adalah kesukaanku, berawal dari makan bersama, kami terlarut dalam perbincangan panjang yang penuh canda tawa, dan pada akhirnya kami berakhir pada adegan erotis yang terjadi dikamarku malam ini dan bagiku ini adalah saatnya mengeluarkan keindahannya.
Arine meliuk dengan tubuh telanjangnya yang kuikat dalam posisi berdiri, dengan kedua tangannya menggantung diatas dan kakinya yang berusaha menapakan kakinya yang juga telah ku ikat, hanya suara gumamam tangisan yang dapat kudengar dari mulutnya yang kusumpal dengan kain, aku mungkin sedikit merasa kasihan dengan dirinya yang mungkin merasa kedinginan didalam ruangan bawah tanahku yang berdindingkan batu-batu besar dan dilengkapi pendingin, ruangan ini adalah ruangan yang didesain oleh Bella untuku, ia membuat ruang bawah tanah ini menjadi tempatku untuk mengerjakan seni patung lilinku, bahan lilin yang kupakai khusus lilin ini mudah dibentuk namun mudah cair bila terkena suhu diatas dua puluh empat derajat, karena itulah Bella menyarankanku untuk memakai tempat ini sebagai tempatku berkarya.
Kembali pada Arine yang kin kugantung itu, aku kini sudah mengambil pisau daging besar yang sudah kuasah sangat tajam , aku mulai menempatkan bilah tajamnya pada leher Arine, tangisannya semakin menjadi-jadi aku dapat melihat raut keputusasaan dalam wajahnya tersebut, padahal saat ini aku ingin mengeluarkan kesempurnaanya itu.
Aku tidak terlalu tega untuk membuat Arine mengalami ketakutan seperti ini, jadi tanpa basa-basi lagi, aku menggesekan pisau tersebut tepat dilehernya, dan mengucurlah darah segar yang menyiprat keseluruh tubuhku, memang terlihat kejam karena setelah itu aku mulai memotong , tidak bukan memotong , lebih tepatnya memisahkan daginngnya dari tulangnya, aku dengan teliti memisahkan daging-daging tersebut dan berusaha untuk tidak membuat ada sedikitpun daging atau otot yang menyebabkan gundukan kecil yang merusak bentuk tubuh patung lilin tersebut.
Dengan telaten, aku menyiramkan segayung demi segayung, lilin cair yang selalu jadi bahan utama setiap karyaku, terus menyiraminya, menyirami rangka tersebut sehingga lilin itu membalut seperti daging pada rangka yang bisa tetap tersambung karena sendi yang kubiarkan, dan ada beberapa bagian yang kusatukan dengan kawat-kawat itu sehingga dapat berdiri dan membentuk pose yang kuingginkan.
Aku mulai mengukir lilin yang membeku di rangka tadi dan membentuk hidung,mata,mulut dan yang lainnya, tanpa mengenal lelah, tanpa mengenal bosan, karya yang ku ciptakan untuk menyampaikan cintaku pada Bella, kini sudah selesai.
Siang ini, aku membawa karyaku ini keatap dan mengaturnya seperti biasa, tidak lupa aku menyediakan wadah tanah liat untuk menampung lelehan lilin yang mencair, dan dengan otomatis tulang-tulang itu juga akan terjatuh dan membeku didalam lilin cair yang beku nanti, dan pada akhirnya aku hanya perlu menanamnya , benar-benar suatu hal yang menarik bagiku menatap tulang-tulang itu tercemplung kedalam wadah lilin cair itu, seakan- akan setiap aku melihat hal itu, aku merasa setiap cintaku yang kutanam pada patung lilin Bella ,terkurah habis dan telah tersampaikan padanya.
Aku duduk dan menatap hasil karyaku ini, benar-benar membuarku terharu, aku tidak salah memilih gadis itu sebagai rangka patung Bella, baru kali ini aku membuat patung lilin Bella benar-benar mirip, struktur tulangnya , benar-benar membuat pondasi yang pas untuk patung lilin Bella,inilah yang kumaksud dengan kesempurnaan, ya, rangka gadis ini benar-benar sempurna dalam meniru bentuk tubuh Bella, aku terkagum-kagum sendiri melihatnya.
Hingga pada tetesan pertama yang jatuh dari ujung jari patung Bella, aku menyadari, bahwa aku tidak akan bisa membuat hal sempurna ini dua kali, aku harus melakukan sesuatu, sebagai pelengkap dari upacara cintaku untuk Bella, ya aku tidak perlu mengandalkan matahari untuk menguapkan seluruh cinta yangkutanamkan pada patung itu, aku akan menguapkannya sendiri untuk Bella.
Aku berlari dengan cepat kegarasi, dan buru-buru kembali keatap dengan sebotol bensin dan pematik, aku mulai memandikan diriku dengan bensin tersebut, aku tidak peduli dengan baunya yang menusuk hidung,aku sekarang melangkah dan memeluk tubuh patung Bella yang palin sempurna kubuat ini, dan menyalakan pematik ditanganku.
Api kini sudah menjalar diseluruh tubuhku, aku kini bagaikan sebuah obor, aku memeluk patung lilin Bella dengan erat,dan merasakan bahwa kini ia mencair ditanganku, tak ada lagi yang dapat kuungkapkan, hanya senyum samar yang tercipta di wajahku yang sudah terbakar,satu-satunya yang terpikirkan olehku adalah, inilah karya dengan persembahan cinta terbaikku untuk Bella.

Just Enjoy The Story

Mother's Love

Original Story By Joe Black


Kau terbangun di tengah malam karena Kucing peliharaanmu naik keatas tempat tidur dan tidur diatas perutmu,kau merasa nyaman karena itu terasa hangat.
kau mencoba untuk melanjutkan tidur cantikmu,tapi tiba-tiba kucingmu mendesis ketakutan berlari dari tempat tidur dan bersembunyi di balik tirai.
kucingmu tidak pernah bertindak seperti itu sebelumnya dan itu mulai mengganggumu.kau melihat sekeliling kamarmu untuk melihat apa yang membuat kucingmu ketakutan,tapi tidak ada apapun disana.kau hanya diam membuat semua terasa lebih hening dan mendengarkan dengan seksama.
kau mendengar kucingmu sedang minum dari mangkuk di ruang tamu dan membuat suara menyeruput yang menjijikkan.
kau merasa Lega bahwa tidak ada yang aneh,kau kembali berbaring dan menarik selimut sampai menyentuh dagumu.
Tapi sebelum kau menutup mata,kau melihat siluet bayangan kucingmu merunduk di bawah meja dengan bulu-bulu halusnya berdiri.
kau terkejut,Jika kucingmu tidak sedang minum diruang tamu,jadi siapa yang membuat suara menyeruput itu?
dengan Perlahan-lahan kau turun dari tempat tidurmu mencoba tidak membuat suara. meskipun kau mencoba tapi kerangka kayu tua lantai kamarmu mengerang keras begitu kakimu memijaknya.
kau terdiam seperti membeku,Suara menyeruput itu berhenti untuk sesaat kemudian mulai menyeruput lagi.
Kau merasa ragu bahwa ini hanya imajinasimu.Jantungmu berdebar kencang,kau jalan kepintu dengan berjinjit melangkah keluar dari kamar dan melihat dari lorong kearah mangkuk air kucingmu.
Dan di sana kau melihatnya.Ibumu, meringkuk dilantai dengan tangan dan lututnya.Tubuhnya yang panjang dan jari-jarinya yang kurus,Rambut berantakan dengan kulit putih pucat, wajahnya penuh dengan keriput dipenuhi bekas sayatan benda tajam.ibumu menjilati air di mangkuk kucingmu dengan lidah hitam seperti batu bara dengan ukuran dua kali lebih panjang dari ukuran normal.
Tiba-tiba ibumu berhenti,perlahan memalingkan kepalanya ke arahmu,Dia menatap jauh ke dalam matamu.kau melompat panik dan lari kembali ke dalam kamarmu, sementara ibumu merangkak dengan cepat menuju ke arahmu.kau menutup pintu kamarmu.sebelum pintu kamarmu bergetar keras,kau dengan cepat membalikkan tubuh mungilmu kepintu,mencoba untuk menghalanginya.pintumu bergetar dengan keras,keras dan semakin keras.
Kemudian,benturan itu berhenti,seketika semua menjadi hening.Setelah beberapa detik ibumu berkata
"Sayang,apa ada yang salah?"
kau mendengar suara ibumu berusaha menenangkanmu dari balik pintu.
"Mengapa kau menutup pintunya? ibu sangat khawatir padamu,Tolong biarkan ibu masuk"

Just Enjoy The Story!

Perkenalan

Hi,Namaku Nickolas Alvine.Biasa dipanggil Nick.Aku tinggal di BSD,Tangsel
Di blog ini aku akan menceritakan tentang pengalaman,cerita fiksi,film yang bergenre
CreepyPasta.CreepyPasta adalah suatu cerita yang akhirnya mengagetkan.Bukan Happy Ending.

Kalau mau tau lebih banyak Tentang Cerita Cerita CreppyPasta
ikutin aku aja yaaaa.

JADWAL UPDATE
Setiap hari Jumat

Tanggal 2 juli -27 Update Everyday

OKAY TUNGGU POSTNYA YAAAAA

I like creepypasta.